Translate

Minggu, 01 Februari 2026

Semut hitam dan gelas kosong

Seseorang yang dengan keangkuhannya yang selalu merendahkan dirinya.
Seseorang yang mengenalkanku akan sebuah titik kosong.
Tentang keikhlasan, kesabaran, dan rasa bersyukur.

Awalnya aku tak tahu, sebab apa Allah mempertemukan kita di episode kehidupan ini.
Kamu baik, begitu perhatian, kamu luar biasa.
Meski aku tahu baik dan perhatianmu itu tersembunyi alasan yang sangat jelas bagiku.
Tapi aku nikmati itu.

Kamu beriku banyak ilmu kehidupan, sampai hikmahnya saja begitu samar aku petik.

Aku tahu kamu. Hanya saja aku diam. Karena aku tak mau menilaimu lebih jauh lagi. Biar Allah yang berhak menilai kamu.

Kamu tahu aku melebihi apa yang orang lain tahu tentang aku. Termasuk diriku sendiri. Menyadarkanku akan arti kehidupan. Tentang arti sebuah cahaya di kegelapan.

Terimakasih. Karena mengenalmu, awal aku melangkah menuju cahaya-Nya. Cahaya yang sempat membuatku bingung dan diam. Keraguanku makin sirna akan diriku yang sebenarnya. Bahwa ada hal lain di diriku yang harus aku taklukkan. Aku yang munafik, aku yang naif, aku yang haus akan duniawi, aku yang dengki, bahkan aku yang bodoh. Seperti katamu, gelas kosong. Tak berisi. Dan aku ingin Allah meridhoiku, untuk menghilangkan penyakit hati itu. Untuk mengisi gelas kosong itu dengan tanganku sendiri.




Minggu, 04 Januari 2026

Jogja, Rumah yang Tidak Direncanakan

Aku tiba di Jogja hari Sabtu malam, 27 Des 2025 pukul 19.03.
Kereta berhenti, pintu terbuka, dan udara Jogja menyambut dengan caranya sendiri—hangat tapi tenang.

Di stasiun, aku COD motor dengan seseorang. Ia datang bersama mbaknya. Semua singkat, sopan, dan selesai tanpa cerita panjang. Setelah itu aku langsung menuju penginapan yang kupesan lewat aplikasi. Badan lelah, anak mengantuk, pikiranku cuma satu: sampai kamar, mandi, tidur.

Tapi malam itu, Jogja tidak memberiku kamar.
Aku ditolak. Katanya, aku ditipu aplikasi OYO.
Aku berdiri sebentar, menarik napas. Capek, bingung, dan jujur saja—takut. Tapi aku tahu, aku tidak boleh panik. Aku menghubungi temanku, adiknya, dan mamahnya. Tak lama kemudian aku diarahkan ke rumah mereka.

Dan di sanalah semuanya berubah.
Aku disambut bukan sebagai tamu sementara, tapi seperti keluarga.
Mamahnya bilang, “Kalau ke Jogja, nggak usah nginep hotel. Di sini aja.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti pintu yang dibukakan dari dalam dada.
Malam itu aku tidur di rumah orang lain, tapi justru merasa aman.

Hari pertama kami isi dengan Jogja yang klasik dan ramah anak.
Keraton, Taman Sari, Taman Pintar. Kami makan mie di Bonafide. Tidak terburu-buru. Aku melihat anakku berjalan dengan mata berbinar, dan aku tahu—kami baik-baik saja.

Hari kedua, kami bergerak ke timur.
Ratu Boko, Bukit Teletubbies, Museum Dirgantara, Candi Plaosan. Aku mulai belajar satu hal penting: tidak semua tempat harus ditaklukkan. Ada tempat yang cukup dilihat sebentar, lalu ditinggalkan dengan rasa cukup.

Hari ketiga, kami ke Kaliurang.
Suraloka Zoo, Ullen Sentalu, Botanical Garden, Stonehenge. Udara lebih dingin, langkah lebih pelan. Aku memperhatikan anakku—kapan ia semangat, kapan ia lelah. Aku belajar menyesuaikan, bukan memaksakan.

Hari keempat adalah penutup yang lembut.
Tempo Gelato, Edsu House, Malioboro, beli bakpia, Tugu Jogja, lalu maghrib di Masjid Jenderal Sudirman. Motor kukembalikan dengan baik, diwakili mbaknya. Tanpa drama, tanpa kalimat yang perlu dijelaskan.

Semuanya selesai dengan tenang.
Liburan ini tidak sempurna.
Masih banyak tempat yang belum kudatangi. Tapi aku pulang dengan sesuatu yang lebih penting: rasa cukup.
Aku bahagia.
Anakku bahagia.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

Jogja tidak memberiku semua yang kurencanakan.
Tapi ia memberiku apa yang kubutuhkan.
Dan untuk itu, aku bersyukur.