Translate

Kamis, 04 Juni 2026

Doa untuk jodohku.

Ya Allah,
jika dia adalah jodoh terbaik yang Engkau siapkan untukku,
maka jagalah hatinya dalam kebaikan,
lapangkan rezekinya, sehatkan langkahnya,
dan mudahkan setiap jalan yang membawanya menuju diriku.

Lembutkan hatinya untuk menerima hadirku,
mantapkan niatnya dalam keseriusan,
dan pertemukan kami pada waktu terbaik menurut-Mu,
bukan hanya untuk saling mencintai,
tetapi juga untuk saling menjaga, menguatkan, dan bertumbuh bersama di jalan-Mu.

Ya Allah,
hindarkan kami dari hubungan yang melelahkan tanpa arah,
dari rasa yang hanya datang lalu pergi,
dan dari harapan yang menjauhkan kami dari ketenangan.

Jika memang kami ditakdirkan bersama,
satukan kami dalam ikatan yang halal, penuh keberkahan,
rumah yang dipenuhi kasih sayang, rezeki yang cukup,
hati yang saling setia,
serta kehidupan yang membawa kami semakin dekat kepada-Mu.

Namun jika bukan dia orangnya,
maka cukupkan hatiku dengan ketetapan-Mu,
dan gantikan dengan seseorang yang lebih baik menurut-Mu,
yang mencintaiku dengan tulus, menjaga dengan sungguh-sungguh,
dan datang bukan hanya untuk singgah, tetapi untuk menetap.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Minggu, 17 Mei 2026

Rok Maroon dari Jawa Tengah: Sebuah Kemenangan yang Ikut Dirayakan Sahabat

 Oleh: Siti Humaeroh


Sore itu aku pulang mengajar dengan tubuh yang benar-benar lelah. Beberapa minggu terakhir terasa sangat panjang karena sepulang sekolah aku masih harus menyiapkan berbagai hal untuk lomba guru inovatif yang kuikuti atas nama sekolah, mewakili kecamatan di tingkat kabupaten. Rasanya hampir setiap malam diisi dengan merevisi presentasi, menyusun media pembelajaran, merekam video, dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku mungkin memang pantas mencoba.

Sesampainya di rumah, ibuku berkata santai sambil menunjuk meja ruang tamu.

“Tadi ada paket buat kamu.”

Aku mengernyit bingung. Rasanya aku tidak membeli apa pun minggu itu. Di atas meja tergeletak sebuah kotak paket dari JNE. Saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersenyum kecil.

Paket itu datang dari Jawa Tengah.

Dari seorang sahabat.

Aku membawa paket itu ke kamar dan duduk diam beberapa menit sebelum membukanya. Rasanya hangat sekali mengetahui ada seseorang yang mengingatku dari jauh, tepat setelah hari-hari melelahkan yang baru saja kulewati.

Beberapa minggu sebelumnya, hidupku dipenuhi rasa lelah. Sebagai guru SD, pekerjaanku tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Ada administrasi yang harus diselesaikan, ada anak-anak yang harus diperhatikan, ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan, dan ada urusan rumah yang tetap menunggu untuk dibereskan. Di tengah semua itu, mengikuti lomba terasa seperti menambah beban baru. Berkali-kali aku ingin menyerah karena merasa guru lain pasti jauh lebih hebat dan lebih siap.

Namun diam-diam, ada beberapa orang yang terus mendukungku. Salah satunya sahabatku.

Kami tinggal di kota yang berbeda. Aku di Tangerang, Banten. Sedangkan sahabatku berada di salah satu kota di Jawa Tengah. Meski terpisah jarak, ia sering menjadi orang yang mendengarkan ceritaku saat aku lelah menghadapi pekerjaan, ragu dengan kemampuan diri sendiri, atau sekadar ingin mengeluh tentang hari yang berat.

Hari pengumuman lomba menjadi hari yang tidak akan kulupakan. Saat namaku disebut sebagai juara 1, aku sempat terpaku beberapa detik. Tanganku dingin, jantungku berdegup sangat cepat, dan pikiranku campur aduk antara tidak percaya, lega, dan bahagia. Semua rasa lelah yang selama ini kupendam seperti runtuh begitu saja.

Ucapan selamat berdatangan dari banyak orang. Grup WhatsApp ramai. Telepon masuk silih berganti. Namun beberapa hari setelah euforia kemenangan itu mereda, justru sebuah paket sederhana membuatku merasa paling terharu.

Aku akhirnya membuka paket dari JNE itu perlahan. Di dalamnya ada sebuah rok berwarna maroon yang langsung menarik perhatianku. Warnanya cukup terang hingga membuatku ingin segera mencobanya saat itu juga.

Ibuku yang melihat dari dekat langsung tertawa kecil.

“Warnanya merah kayak rok anak SD ya?” katanya bercanda.

Aku ikut tertawa mendengarnya. Rumah sore itu terasa hangat sekali oleh hal-hal sederhana yang bahkan tidak direncanakan.

Tidak ada barang mewah di dalam paket itu. Hanya sebuah rok maroon yang dipilihkan seseorang yang ikut bahagia atas pencapaianku.

Ada secarik pesan singkat yang membuat mataku berbinar.

“Buat Bu guru hebat yang akhirnya sadar kalau perjuangannya tidak sia-sia. Semoga berkah dan banyak-banyak manfaatnya ya.”

Aku tertawa kecil sambil menahan haru. Rasanya aneh bahwa bagaimana bisa, sebuah kiriman bisa membawa emosi sebesar itu. Setelah mencoba rok tersebut, aku langsung memotretnya dan mengirimkannya kepada sahabatku sambil mengucapkan terima kasih. Rasanya lucu sekaligus menghangatkan hati bagaimana sebuah kiriman dari kota lain bisa membuat hariku begitu bahagia.

Jarak ratusan kilometer antara Jawa Tengah dan Banten mendadak terasa dekat. Sebuah paket yang diantar JNE ternyata bukan hanya membawa barang, tetapi juga perhatian, dukungan, dan rasa bangga dari seorang sahabat.

Hari itu aku sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dalam bentuk perayaan besar. Kadang kebahagiaan hadir lewat bunyi motor kurir di depan rumah, lewat paket sederhana, dan lewat seseorang yang diam-diam ikut merayakan perjuangan kita dari jauh.

Kini rok itu masih kusimpan baik-baik. Bahkan masih sering kupakai untuk jalan, bermain, hingga pergi kuliah. Bukan sekadar karena itu hadiah kemenangan, tetapi karena setiap kali melihatnya, aku selalu teringat bahwa dalam perjalanan hidup yang melelahkan, selalu ada orang-orang yang bergerak bersama kita, meski dipisahkan jarak.

Dan melalui JNE, cerita kecil tentang perhatian itu akhirnya sampai ke tangan yang tepat.


#JNE

#ConnectingHappiness

#JNE35BergerakBersama

#JNEContentCompetition2026 

#JNEBeragamCerita

Rabu, 13 Mei 2026

Di Ujung Kabupaten, Kami Menjaga Harapan

SDN SUKAMANAH

Kabupaten Tangerang 

--oleh: Siti Humaeroh--

Tidak banyak yang tahu letak SDN Sukamanah. Sekolah kecil di ujung Kabupaten Tangerang itu berdiri jauh dari hiruk-pikuk kota. Jumlah siswanya bahkan tidak sampai dua ratus anak. Bangunannya sederhana, berada di lingkungan perkampungan yang masih dikelilingi hamparan kebun dan sawah. Namun setiap pagi, harapan tetap datang memakai seragam merah putih.

Anak-anak datang dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang diantar orang tua menggunakan sepeda motor, ada yang berboncengan dengan saudaranya, dan ada pula yang berjalan kaki cukup jauh dari rumah mereka. Saat musim hujan tiba, sepatu mereka sering kali basah dan sedikit berlumpur. Meski begitu, mereka tetap datang dengan wajah ceria dan semangat belajar yang tidak pernah benar-benar hilang.

Di sekolah kecil itu, keterbatasan sudah menjadi bagian dari keseharian. Jumlah guru tidak banyak, begitu pula jumlah muridnya. Dalam berbagai perlombaan, nama anak yang ditunjuk sering kali itu-itu saja karena pilihan yang tersedia memang terbatas. Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang diterima juga tidak besar. Sekolah harus benar-benar cermat menyusun anggaran agar seluruh kebutuhan pembelajaran, kegiatan siswa, dan operasional sekolah tetap berjalan dengan baik.

Namun di balik segala keterbatasan itu, SDN Sukamanah tetap hidup oleh semangat orang-orang di dalamnya.

Anak-anak di sekolah ini memiliki karakter dan kemampuan yang beragam. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan pendampingan lebih lama, dan ada pula yang masih harus dibimbing perlahan dalam membaca dan menulis. Sebagian anak berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang yang berbeda-beda. Meski demikian, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Di ruang-ruang kelas sederhana itulah para guru berusaha memberikan yang terbaik. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, memotivasi, dan menjaga semangat anak-anak agar tetap percaya pada cita-cita mereka.

Ada guru yang setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh kilometer dari rumah menuju sekolah. Perjalanan yang cukup melelahkan itu tetap dijalani dengan penuh tanggung jawab karena mereka sadar bahwa kehadiran guru sangat berarti bagi anak-anak di sekolah kecil tersebut.

Bagi sebagian orang, mengajar di sekolah perbatasan mungkin bukan pilihan yang mudah. Fasilitas tidak selalu lengkap, akses tidak selalu nyaman, dan tantangan datang hampir setiap hari. Namun para guru di SDN Sukamanah memilih untuk tetap bertahan. Mereka percaya bahwa setiap anak, di mana pun tempat tinggalnya, berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan perhatian yang sama.

Semangat itu juga tidak tumbuh sendirian. Orang tua murid menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan anak-anak mereka. Di tengah kesibukan bekerja dan keterbatasan ekonomi, banyak orang tua tetap berusaha hadir dalam kegiatan sekolah, mendukung kebutuhan belajar anak, dan menjalin komunikasi dengan guru. Ada yang membantu mempersiapkan kegiatan sekolah, ada yang ikut mendampingi anak belajar di rumah, dan ada pula yang sekadar memastikan anak-anak tetap berangkat sekolah setiap pagi.

Kerja sama sederhana seperti itulah yang membuat sekolah tetap berjalan dengan hangat. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga menjadi kepedulian bersama.

Selain orang tua, komite sekolah dan masyarakat sekitar juga turut mengambil peran. Dalam berbagai kegiatan sekolah, mereka hadir membantu sesuai kemampuan dan caranya masing-masing. Dukungan itu mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup untuk membuat anak-anak merasa bahwa sekolah mereka diperhatikan dan dijaga bersama.

Perlahan, perhatian dan dukungan juga datang dari berbagai pihak. Tahun lalu, SDN Sukamanah mendapatkan bantuan pagar baru dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang sehingga lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman bagi anak-anak. Pemerintah desa juga membantu pembangunan paving block menuju area sekolah agar akses menjadi lebih baik, terutama saat musim hujan tiba.

Beberapa waktu lalu, sekolah juga menerima bantuan meja dan kursi belajar dari Baznas. Bagi sekolah kecil seperti SDN Sukamanah, bantuan sederhana seperti itu memiliki arti yang sangat besar. Anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman dan sekolah semakin bersemangat untuk terus berbenah.

Meski demikian, masih ada harapan yang ingin diwujudkan. Hingga saat ini, SDN Sukamanah belum memiliki ruang perpustakaan, UKS, maupun ruang guru yang memadai. Ruang guru masih bergabung dengan ruang kepala sekolah yang ukurannya terbatas. Namun keterbatasan itu tidak membuat semangat berhenti. Sekolah terus berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan layak bagi anak-anak.

Di SDN Sukamanah, pendidikan tidak dibangun dengan kemewahan. Tidak ada gedung megah atau fasilitas yang serba lengkap. Namun sekolah kecil itu memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu semangat untuk terus bergerak maju.

Anak-anak di sana tetap berani bermimpi. Di tengah keterbatasan, mereka masih menyebut cita-cita dengan mata berbinar. Ada yang ingin menjadi guru, polisi, dokter, tentara, bahkan pemimpin di masa depan. Mimpi-mimpi itu tumbuh dari ruang kelas sederhana yang mungkin jarang dilihat orang, tetapi penuh dengan harapan.

Setiap kali melihat mereka belajar dengan sungguh-sungguh, para guru kembali diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai atau prestasi. Pendidikan adalah tentang menjaga harapan agar tetap hidup, bahkan di tempat yang jauh dari pusat perhatian.

Sekolah kecil di ujung Kabupaten Tangerang itu mungkin tidak banyak dikenal. Jumlah muridnya tidak besar dan fasilitasnya masih terbatas. Namun setiap pagi, sekolah itu selalu dipenuhi langkah-langkah kecil yang datang membawa semangat dan cita-cita.

Dari sana, kami belajar bahwa pendidikan bermutu tidak selalu lahir dari sekolah besar atau fasilitas mewah. Pendidikan tumbuh dari kepedulian banyak orang yang memilih untuk tetap berjalan bersama. Dari guru yang setia mendampingi, orang tua yang terus mendukung, masyarakat yang ikut menjaga, pemerintah yang membantu, hingga anak-anak yang tidak pernah berhenti bermimpi.

Di tempat yang jauh dari pusat perhatian, pendidikan tetap diperjuangkan bersama. Dan di SDN Sukamanah, kami akan terus menjaga harapan itu.

Minggu, 04 Januari 2026

Jogja, Rumah yang Tidak Direncanakan

Aku tiba di Jogja hari Sabtu malam, 27 Des 2025 pukul 19.03.
Kereta berhenti, pintu terbuka, dan udara Jogja menyambut dengan caranya sendiri—hangat tapi tenang.

Di stasiun, aku COD motor dengan seseorang. Ia datang bersama mbaknya. Semua singkat, sopan, dan selesai tanpa cerita panjang. Setelah itu aku langsung menuju penginapan yang kupesan lewat aplikasi. Badan lelah, anak mengantuk, pikiranku cuma satu: sampai kamar, mandi, tidur.

Tapi malam itu, Jogja tidak memberiku kamar.
Aku ditolak. Katanya, aku ditipu aplikasi OYO.
Aku berdiri sebentar, menarik napas. Capek, bingung, dan jujur saja—takut. Tapi aku tahu, aku tidak boleh panik. Aku menghubungi temanku, adiknya, dan mamahnya. Tak lama kemudian aku diarahkan ke rumah mereka.

Dan di sanalah semuanya berubah.
Aku disambut bukan sebagai tamu sementara, tapi seperti keluarga.
Mamahnya bilang, “Kalau ke Jogja, nggak usah nginep hotel. Di sini aja.”
Kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti pintu yang dibukakan dari dalam dada.
Malam itu aku tidur di rumah orang lain, tapi justru merasa aman.

Hari pertama kami isi dengan Jogja yang klasik dan ramah anak.
Keraton, Taman Sari, Taman Pintar. Kami makan mie di Bonafide. Tidak terburu-buru. Aku melihat anakku berjalan dengan mata berbinar, dan aku tahu—kami baik-baik saja.

Hari kedua, kami bergerak ke timur.
Ratu Boko, Bukit Teletubbies, Museum Dirgantara, Candi Plaosan. Aku mulai belajar satu hal penting: tidak semua tempat harus ditaklukkan. Ada tempat yang cukup dilihat sebentar, lalu ditinggalkan dengan rasa cukup.

Hari ketiga, kami ke Kaliurang.
Suraloka Zoo, Ullen Sentalu, Botanical Garden, Stonehenge. Udara lebih dingin, langkah lebih pelan. Aku memperhatikan anakku—kapan ia semangat, kapan ia lelah. Aku belajar menyesuaikan, bukan memaksakan.

Hari keempat adalah penutup yang lembut.
Tempo Gelato, Edsu House, Malioboro, beli bakpia, Tugu Jogja, lalu maghrib di Masjid Jenderal Sudirman. Motor kukembalikan dengan baik, diwakili mbaknya. Tanpa drama, tanpa kalimat yang perlu dijelaskan.

Semuanya selesai dengan tenang.
Liburan ini tidak sempurna.
Masih banyak tempat yang belum kudatangi. Tapi aku pulang dengan sesuatu yang lebih penting: rasa cukup.
Aku bahagia.
Anakku bahagia.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

Jogja tidak memberiku semua yang kurencanakan.
Tapi ia memberiku apa yang kubutuhkan.
Dan untuk itu, aku bersyukur.