Translate
Kamis, 04 Juni 2026
Doa untuk jodohku.
Minggu, 17 Mei 2026
Rok Maroon dari Jawa Tengah: Sebuah Kemenangan yang Ikut Dirayakan Sahabat
Oleh: Siti Humaeroh
Sore itu aku pulang mengajar dengan tubuh
yang benar-benar lelah. Beberapa minggu terakhir terasa sangat panjang karena
sepulang sekolah aku masih harus menyiapkan berbagai hal untuk lomba guru
inovatif yang kuikuti atas nama sekolah, mewakili kecamatan di tingkat
kabupaten. Rasanya hampir setiap malam diisi dengan merevisi presentasi,
menyusun media pembelajaran, merekam video, dan meyakinkan diri sendiri bahwa
aku mungkin memang pantas mencoba.
Sesampainya di rumah, ibuku berkata santai
sambil menunjuk meja ruang tamu.
“Tadi ada paket buat kamu.”
Aku mengernyit bingung. Rasanya aku tidak
membeli apa pun minggu itu. Di atas meja tergeletak sebuah kotak paket dari
JNE. Saat melihat nama pengirimnya, aku langsung tersenyum kecil.
Paket itu datang dari Jawa Tengah.
Dari seorang sahabat.
Aku membawa paket itu ke kamar dan duduk
diam beberapa menit sebelum membukanya. Rasanya hangat sekali mengetahui ada
seseorang yang mengingatku dari jauh, tepat setelah hari-hari melelahkan yang
baru saja kulewati.
Beberapa minggu sebelumnya, hidupku
dipenuhi rasa lelah. Sebagai guru SD, pekerjaanku tidak berhenti ketika bel
pulang berbunyi. Ada administrasi yang harus diselesaikan, ada anak-anak yang
harus diperhatikan, ada tugas kuliah yang harus aku kerjakan, dan ada urusan
rumah yang tetap menunggu untuk dibereskan. Di tengah semua itu, mengikuti
lomba terasa seperti menambah beban baru. Berkali-kali aku ingin menyerah
karena merasa guru lain pasti jauh lebih hebat dan lebih siap.
Namun diam-diam, ada beberapa orang yang
terus mendukungku. Salah satunya sahabatku.
Kami tinggal di kota yang berbeda. Aku di
Tangerang, Banten. Sedangkan sahabatku berada di salah satu kota di Jawa
Tengah. Meski terpisah jarak, ia sering menjadi orang yang mendengarkan
ceritaku saat aku lelah menghadapi pekerjaan, ragu dengan kemampuan diri
sendiri, atau sekadar ingin mengeluh tentang hari yang berat.
Hari pengumuman lomba menjadi hari yang
tidak akan kulupakan. Saat namaku disebut sebagai juara 1, aku sempat terpaku
beberapa detik. Tanganku dingin, jantungku berdegup sangat cepat, dan pikiranku
campur aduk antara tidak percaya, lega, dan bahagia. Semua rasa lelah yang
selama ini kupendam seperti runtuh begitu saja.
Ucapan selamat berdatangan dari banyak
orang. Grup WhatsApp ramai. Telepon masuk silih berganti. Namun beberapa hari
setelah euforia kemenangan itu mereda, justru sebuah paket sederhana membuatku
merasa paling terharu.
Aku akhirnya membuka paket dari JNE itu
perlahan. Di dalamnya ada sebuah rok berwarna maroon yang langsung menarik
perhatianku. Warnanya cukup terang hingga membuatku ingin segera mencobanya
saat itu juga.
Ibuku yang melihat dari dekat langsung
tertawa kecil.
“Warnanya merah kayak rok anak SD ya?”
katanya bercanda.
Aku ikut tertawa mendengarnya. Rumah sore
itu terasa hangat sekali oleh hal-hal sederhana yang bahkan tidak direncanakan.
Tidak ada barang mewah di dalam paket itu.
Hanya sebuah rok maroon yang dipilihkan seseorang yang ikut bahagia atas
pencapaianku.
Ada secarik pesan singkat yang membuat
mataku berbinar.
“Buat Bu guru hebat yang akhirnya sadar
kalau perjuangannya tidak sia-sia. Semoga berkah dan banyak-banyak manfaatnya
ya.”
Aku tertawa kecil sambil menahan haru.
Rasanya aneh bahwa bagaimana bisa, sebuah kiriman bisa membawa emosi sebesar
itu. Setelah mencoba rok tersebut, aku langsung memotretnya dan mengirimkannya
kepada sahabatku sambil mengucapkan terima kasih. Rasanya lucu sekaligus
menghangatkan hati bagaimana sebuah kiriman dari kota lain bisa membuat hariku
begitu bahagia.
Jarak ratusan kilometer antara Jawa Tengah
dan Banten mendadak terasa dekat. Sebuah paket yang diantar JNE ternyata bukan
hanya membawa barang, tetapi juga perhatian, dukungan, dan rasa bangga dari
seorang sahabat.
Hari itu aku sadar bahwa kebahagiaan tidak
selalu datang dalam bentuk perayaan besar. Kadang kebahagiaan hadir lewat bunyi
motor kurir di depan rumah, lewat paket sederhana, dan lewat seseorang yang
diam-diam ikut merayakan perjuangan kita dari jauh.
Kini rok itu masih kusimpan baik-baik.
Bahkan masih sering kupakai untuk jalan, bermain, hingga pergi kuliah. Bukan
sekadar karena itu hadiah kemenangan, tetapi karena setiap kali melihatnya, aku
selalu teringat bahwa dalam perjalanan hidup yang melelahkan, selalu ada
orang-orang yang bergerak bersama kita, meski dipisahkan jarak.
Dan melalui JNE, cerita kecil tentang perhatian itu akhirnya sampai ke tangan yang tepat.
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita
Rabu, 13 Mei 2026
Di Ujung Kabupaten, Kami Menjaga Harapan
SDN SUKAMANAH
Kabupaten Tangerang
--oleh: Siti Humaeroh--
Tidak banyak yang tahu letak SDN Sukamanah. Sekolah kecil di ujung Kabupaten Tangerang itu berdiri jauh dari hiruk-pikuk kota. Jumlah siswanya bahkan tidak sampai dua ratus anak. Bangunannya sederhana, berada di lingkungan perkampungan yang masih dikelilingi hamparan kebun dan sawah. Namun setiap pagi, harapan tetap datang memakai seragam merah putih.
Anak-anak datang dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang diantar orang tua menggunakan sepeda motor, ada yang berboncengan dengan saudaranya, dan ada pula yang berjalan kaki cukup jauh dari rumah mereka. Saat musim hujan tiba, sepatu mereka sering kali basah dan sedikit berlumpur. Meski begitu, mereka tetap datang dengan wajah ceria dan semangat belajar yang tidak pernah benar-benar hilang.
Di sekolah kecil itu, keterbatasan sudah menjadi bagian dari keseharian. Jumlah guru tidak banyak, begitu pula jumlah muridnya. Dalam berbagai perlombaan, nama anak yang ditunjuk sering kali itu-itu saja karena pilihan yang tersedia memang terbatas. Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) yang diterima juga tidak besar. Sekolah harus benar-benar cermat menyusun anggaran agar seluruh kebutuhan pembelajaran, kegiatan siswa, dan operasional sekolah tetap berjalan dengan baik.
Namun di balik segala keterbatasan itu, SDN Sukamanah tetap hidup oleh semangat orang-orang di dalamnya.
Anak-anak di sekolah ini memiliki karakter dan kemampuan yang beragam. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan pendampingan lebih lama, dan ada pula yang masih harus dibimbing perlahan dalam membaca dan menulis. Sebagian anak berasal dari keluarga sederhana dengan latar belakang yang berbeda-beda. Meski demikian, mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Di ruang-ruang kelas sederhana itulah para guru berusaha memberikan yang terbaik. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mendampingi, memotivasi, dan menjaga semangat anak-anak agar tetap percaya pada cita-cita mereka.
Ada guru yang setiap hari harus menempuh perjalanan sekitar dua puluh kilometer dari rumah menuju sekolah. Perjalanan yang cukup melelahkan itu tetap dijalani dengan penuh tanggung jawab karena mereka sadar bahwa kehadiran guru sangat berarti bagi anak-anak di sekolah kecil tersebut.
Bagi sebagian orang, mengajar di sekolah perbatasan mungkin bukan pilihan yang mudah. Fasilitas tidak selalu lengkap, akses tidak selalu nyaman, dan tantangan datang hampir setiap hari. Namun para guru di SDN Sukamanah memilih untuk tetap bertahan. Mereka percaya bahwa setiap anak, di mana pun tempat tinggalnya, berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan perhatian yang sama.
Semangat itu juga tidak tumbuh sendirian. Orang tua murid menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan anak-anak mereka. Di tengah kesibukan bekerja dan keterbatasan ekonomi, banyak orang tua tetap berusaha hadir dalam kegiatan sekolah, mendukung kebutuhan belajar anak, dan menjalin komunikasi dengan guru. Ada yang membantu mempersiapkan kegiatan sekolah, ada yang ikut mendampingi anak belajar di rumah, dan ada pula yang sekadar memastikan anak-anak tetap berangkat sekolah setiap pagi.
Kerja sama sederhana seperti itulah yang membuat sekolah tetap berjalan dengan hangat. Pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga menjadi kepedulian bersama.
Selain orang tua, komite sekolah dan masyarakat sekitar juga turut mengambil peran. Dalam berbagai kegiatan sekolah, mereka hadir membantu sesuai kemampuan dan caranya masing-masing. Dukungan itu mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup untuk membuat anak-anak merasa bahwa sekolah mereka diperhatikan dan dijaga bersama.
Perlahan, perhatian dan dukungan juga datang dari berbagai pihak. Tahun lalu, SDN Sukamanah mendapatkan bantuan pagar baru dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang sehingga lingkungan sekolah menjadi lebih aman dan nyaman bagi anak-anak. Pemerintah desa juga membantu pembangunan paving block menuju area sekolah agar akses menjadi lebih baik, terutama saat musim hujan tiba.
Beberapa waktu lalu, sekolah juga menerima bantuan meja dan kursi belajar dari Baznas. Bagi sekolah kecil seperti SDN Sukamanah, bantuan sederhana seperti itu memiliki arti yang sangat besar. Anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman dan sekolah semakin bersemangat untuk terus berbenah.
Meski demikian, masih ada harapan yang ingin diwujudkan. Hingga saat ini, SDN Sukamanah belum memiliki ruang perpustakaan, UKS, maupun ruang guru yang memadai. Ruang guru masih bergabung dengan ruang kepala sekolah yang ukurannya terbatas. Namun keterbatasan itu tidak membuat semangat berhenti. Sekolah terus berupaya menghadirkan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan layak bagi anak-anak.
Di SDN Sukamanah, pendidikan tidak dibangun dengan kemewahan. Tidak ada gedung megah atau fasilitas yang serba lengkap. Namun sekolah kecil itu memiliki sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu semangat untuk terus bergerak maju.
Anak-anak di sana tetap berani bermimpi. Di tengah keterbatasan, mereka masih menyebut cita-cita dengan mata berbinar. Ada yang ingin menjadi guru, polisi, dokter, tentara, bahkan pemimpin di masa depan. Mimpi-mimpi itu tumbuh dari ruang kelas sederhana yang mungkin jarang dilihat orang, tetapi penuh dengan harapan.
Setiap kali melihat mereka belajar dengan sungguh-sungguh, para guru kembali diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang nilai atau prestasi. Pendidikan adalah tentang menjaga harapan agar tetap hidup, bahkan di tempat yang jauh dari pusat perhatian.
Sekolah kecil di ujung Kabupaten Tangerang itu mungkin tidak banyak dikenal. Jumlah muridnya tidak besar dan fasilitasnya masih terbatas. Namun setiap pagi, sekolah itu selalu dipenuhi langkah-langkah kecil yang datang membawa semangat dan cita-cita.
Dari sana, kami belajar bahwa pendidikan bermutu tidak selalu lahir dari sekolah besar atau fasilitas mewah. Pendidikan tumbuh dari kepedulian banyak orang yang memilih untuk tetap berjalan bersama. Dari guru yang setia mendampingi, orang tua yang terus mendukung, masyarakat yang ikut menjaga, pemerintah yang membantu, hingga anak-anak yang tidak pernah berhenti bermimpi.
Di tempat yang jauh dari pusat perhatian, pendidikan tetap diperjuangkan bersama. Dan di SDN Sukamanah, kami akan terus menjaga harapan itu.